Berita Live Scores
Chelsea FC

Runtuhnya Kekaisaran Roman: Rezim Abramovich Di Chelsea Yang Diawali & Diakhiri Kontroversi

15.57 WIB 09/05/22
Roman Abramovich Chelsea 2016
Dugaan kedekatan dengan Kremlin tak pernah sepenuhnya sirna, & taipan Rusia itu akhirnya memutuskan menjual Chelsea setelah Putin menginvasi Ukraina

Roman Abramovich kian paripurna sebagai legenda Chelsea setelah menyapu bersih semua gelar dengan memenangkan Piala Dunia Antarklub di Abu Dhabi.

Setelah menginjakkan kaki di rumput Stadion Mohammed Bin Zayed, dia memeluk sang manajer, Thomas Tuchel, dan mengobrol bareng Cesar Azpilicueta sebelum mengangkat trofi juara dunia tinggi-tinggi.

Trofi tersebut adalah gelar mayor ke-21-nya dalam 19 tahun, periode di mana ia berhasil mengangkat derajat Chelsea menjadi salah satu monster Eropa, dan mentransformasi The Blues jadi klub dengan popularitas global.

Namun, dugaan kedekatan dirinya dengan Kremlin tak pernah benar-benar sirna. Dia selalu dirongrong tuduhan bahwa dia menggunakan 'uang kotor' untuk membeli dan mendanai Chelsea.

Dia tak pernah bisa lari dari masa lalu dan pada akhirnya masa lalu berhasil menyalipnya: serangan Vladimir Putin ke Ukraina memaksa Abramovich menjual Chelsea, dan itu berarti rezimnya di London barat diawali dan diakhiri dengan kontroversi.

Ketika kabar tersebut pertama tersiar pada 3 Maret dini hari WIB, berbagai reaksi emosional timbul dari suporter Chelsea, yang ingin mengirimkan puja-puji kepada sosok yang paling berjasa atas kesuksesan mereka dalam dua dekade terakhir.

Namun, informasi yang ditulis para jurnalis mengenai Abramovich soal rezimnya di Chelsea bersumber dari ucapan-ucapan off the record atau bahkan desas-desus belaka.

Bagaimana tidak, taipan Rusia itu cuma pernah melakoni satu wawancara sebagai pemilik Chelsea, itu pun bersama media bisnis Forbes.

"Kalau dipikir-pikir lagi, terutama mengingat saya bakal menjadi sosok publik, mungkin saya akan punya ide yang berbeda soal memiliki sebuah klub," ungkap Abramovich.

"Tetapi, saat itu, saya cuma menonton permainan luar biasa ini dan saya ingin menjadi bagian darinya entah bagaimana."

Realitanya, hampir tidak ada yang tahu motivasinya membeli Chelsea.

Ketika menggelontorkan £140 juta demi mengakuisisi The Blues, plus melunasi utang £75 juta, Abramovich berubah dari yang dulunya sosok tanpa nama -- kecuali di industri baja -- menjadi oligarki yang dikenal sedunia.

Di hari-hari pertama, Abramovich dipandang oleh para pemain Chelsea sebagai sosok sederhana yang bertindak sebagai penyokong.

"Anda bisa melihat Roman menghadiri di semua laga dan dia memberikan banyak hal buat Chelsea," ungkap mantan kiper pelapis, Jurgen Macho, kepada GOAL.

Mantan gelandang, Geremi Njitap, menambahkan: "Anda bisa menemuinya di ruang ganti setelah pertandingan atau di tempat latihan."

"Dia tidak banyak bicara karena saya tidak yakin seberapa lancar Bahasa Inggrisnya."

"Dia pendiam dan pria yang baik. Dia berbicara kepada kami lewat penerjemah. Terlihat seperti orang normal saja."

Tapi tentu saja, dia bukan sosok biasa. Abramovich selamanya mengubah sepakbola, memprakarsai tren grup miliarder internasional yang menciptakan tatanan dunia baru di dalam sepakbola.

Toh, Chelsea asuhan Abramovich adalah klub pertama yang mendobrak hegemon-hegemon lawas. Dia tiba jauh sebelum Abu Dhabi mencaplok Manchester City atau Qatar mendanai akuisisi Paris Saint-Germain.

Tetapi semua nama di atas kini dituduh melakukan sportswashing dan 'membeli' trofi, tuduhan yang sama dengan yang ditujukan kepada Abramovich ketika dia membolak-balikkan Liga Primer Inggris.

Caranya merampas pemain-pemain top pada musim panas 2003 juga bisa dibilang mengubah bursa transfer selamanya, bagaimana prahara enam bulanan itu ditulis oleh jurnalis, diikuti para pemain, dieksploitasi agen, dan dikonsumsi suporter.

"Saya sedang di rumah musim panas saya ketika tiba-tiba Ayah saya bertanya apakah saya sudah nonton berita: 'Seorang pria Rusia baru saja membeli klub ini'," ungkap mantan winger Chelsea, Jesper Gronkjaer – yang bisa dibilang mencetak gol terpenting dalam sejarah Chelsea karena memainkan peran kunci dalam melenggangkan akuisisi Abramovich – kepada GOAL.

"Sebagai pemain waktu itu, saya tak pernah mengalami perubahan pemilik sebelumnya, jadi saya tidak mengira ada hal besar yang bakal terjadi."

"Kami langsung menyadari ini nyata dan akan ada banyak uang yang disuntikkan ke klub. [Chelsea] masih menjadi tempat yang sama di mana kami berlatih, jadi rasanya tak terlalu berbeda."

"Tapi lalu kami harus menghadapi rumor soal manajer karena ada banyak nama yang disebut-sebut bakal mengambil alih."

"Ada juga kabar soal akan adanya pemain baru di semua posisi. Saya rasa Anda tidak akan bisa menemukan pemain Chelsea di masa pra-musim saat itu yang tidak mencemaskan posisi mereka di klub."

"Kami sedang mengikuti kamp latihan di Italia, di kota kecil di pegunungan. Ada kafe di sana yang dikunjungi para pemain. Tapi dipenuhi agen dan media."

"Anda melihat para pemain duduk di pojokan, bertanya kepada agen masing-masing apa langkah yang harus diambil karena tidak ada yang benar-benar tahu apa yang bakal terjadi."

"Lalu, kami tur ke Malaysia, dan saya ingat pemain keluar dan masuk, dijual dan dibeli."

Duit Abramovich tidak cuma menarik talenta kelas dunia ke Stamford Bridge; £1,5 miliar yang dia investasikan juga membuat fans dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong ke stadion di London barat itu.

Chelsea FC menjelma jadi brand global sungguhan, dengan fasilitas latihan kelas wahid, akademi jempolan, dengan budaya klub yang kuat.

Stadion mereka mungkin masih bisa dibilang tidak layak untuk menjadi kandang institusi olahraga sebesar Chelsea, tapi fakta itu tidak membuat gentar pihak-pihak yang mau membeli The Blues dari Abramovich, dengan konsorsium pimpinan Todd Boehly resmi diumumkan akan segera merampungkan pembelian.

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, meski GOAL sudah sedikit membagikan bagaimana sang pemilik baru berencana menjalankan klub London barat itu.

Yang jelas, tak peduli apa pendapat orang soal Abramovich, rezimnya bakal terus dikenang sampai generasi-generasi mendatang.

Dia mengubah Chelsea dan sepakbola, selamanya.