Berita Pertandingan
Kultur

Jersey Piala Dunia Argentina Terakhir Lionel Messi: Lihat Lebih Dekat Desain & Prosesnya

01.14 WIB 17/12/22
Messi - Final World Cup kit
Seragam tempur yang bakal terpancang di buku-buku sejarah. Kami berbicara dengan Adidas tentang proses desain jersey PD terakhir Messi di Qatar 2022.

Apa pun yang terjadi pada tahap akhir Qatar 2022—apakah alur naratif membawa Argentina menuju kemenangan, atau apakah Prancis mampu mpertahankan status juara—ini hampir pasti menjadi Piala Dunia terakhir Lionel Messi.

Sang megabintang telah buka suara. Sebelum turnamen, penyerang berusia 35 tahun itu mengatakan ini "pasti" akan menjadi turnamen Piala Dunia terakhirnya, meskipun ia pernah ‘comeback’ usai memutuskan pensiun dari tim nasional.

Tapi, Ssapa yang tahu apa yang akan terjadi sebelum edisi 2026 di Amerika Utara, turnamen di mana ia bahkan mungkin kembali bermain?

Kisah salah satu pemain hebat sepanjang masa yang berusaha mengamankan bagian yang hilang dari koleksi trofinya telah menjadi salah satu tema konstan pada turnamen tahun ini.

Fakta bahwa ini kemungkinan akan menjadi Piala Dunia terakhir Messi juga dimasukkan ke dalam proses desain apparel asal Jerman, Adidas, saat mereka mengkreasi seragam kandang dan tandang Argentina untuk Qatar 2022.

“Kita semua sadar ini bisa menjadi Piala Dunia terakhir Lionel Messi,” ucap Andrew Dolan, manajer produk senior Adidas Football kepada Footballco.

“Jadi, saya jelas sadar bahwa dalam pembuatannya Anda tidak ingin melakukan apa pun yang [membuat orang berkata] ‘Ya Tuhan, saya tidak percaya mereka akan membuat Messi memakai ini’,” tambahnya.

Pertimbangan menyoal Piala Dunia pamungkas Messi memang dapat dimaklumi akan memengaruhi desain jersey, tapi itu bukanlah satu-satunya detail yang dimasukkan ke dalam jersey kandang dan tandang La Albiceleste.

Dolan—yang secara khusus mengerjakan kostum Argentina bersama rekannya Mateo Kossman—menjelaskan bahwa faktor kunci saat merancang kostum tim nasional adalah “membaca DNA dan budaya suatu negara dengan tepat dan menghidupkannya dengan cara yang membuat mereka merasa terwakili dan bangga dengan apa yang mereka kenakan.”

Untuk jersey kandang Argentina, pendekatan tim Adidas tetap berpegang pada formula biru putih klasik yang identik dengan negara tersebut.

“Kami menginginkan warna biru yang sedekat mungkin dengan bendera nasional,” tutur Dolan.

“Kami juga membawa detail [lainnya] dari bendera, dengan Sol de Mayo sebagai penanda di leher belakang. Lalu kami juga melihat jersey yang mereka miliki di masa lalu. Kami tidak ingin membuat ulang sesuatu yang pernah kami miliki sebelumnya, tapi mungkin ada unsur inspirasi dari jersey tertentu atau era yang membawa nostalgia bagi para suporter,” imbuhnya.

Selain mengacu pada bendera negara, fitur menonjol dari jersey milik Argentina pada Piala Dunia 2022 adalah perbedaan garis di bagian depan dan belakang. Dolan menggambarkan ini sebagai "detail telur paskah" yang menghubungkan seragam juara Piala Dunia Argentina edisi 1978 dan 1986.

Pada 1978, Argentina mengenakan jersey dengan tiga garis biru di bagian depan, sementara pada 1986 ada empat garis biru. Sejarah ini kemudian direpresentasikan pada seragam kandang kali ini dengan empat garis di depan dan tiga di belakang.

Sementara jersey kandang menandai Piala Dunia sebelumnya dan corak tradisional, seragam tandang Argentina mengambil pendekatan berbeda.

“Pada kostum kandang, kami melalui kesederhanaan ikonik ini untuk mencoba membuat ikon bagi bangsa,” kata Kossman.

“Pada seragam tandang, kami terbilang lebih progresif, menjelajahi di mana negara ini atau di mana budaya ini bisa berjalan, dan kami bisa melakukannya dengan cara yang berbeda,” imbuhnya.

Dolan mengangguk setuju. Ia menyebut bahwa tim desain "ingin menceritakan kisah yang lebih berani", melalui keseluruhan desain dan palet warna.

“Ungu adalah warna gerakan feminis perempuan, dan hak-hak perempuan, dan kesetaraan di seluruh dunia,” ujar Dolan.

Yang menarik, perbedaan antara seragam kandang dan tandang turut terefleksi dalam perbedaan selera fans yang memilih masing-masing.

“Kami mungkin memiliki konsumen yang berbeda untuk jersey kandang dan tandang,” lanjut Dolan.

“Pada jersey kandang mungkin penggemar yang lebih tradisional yang mengharapkan kesan klasik atau tampilan tradisional,” kata dia.

“Sementara penggemar jersey kedua adalah kutub yang mungkin tidak hanya mengenakan seragam untuk bermain sepakbola. Mereka memakainya dengan jeans dan pergi keluar dengan teman-teman atau, seperti yang kita lihat dengan penggemar yang lebih muda hari ini, mereka semakin sering memakainya dalam hal gaya hidup,” imbuhnya.

Penggemar dan konsumen potensial jelas memainkan peran penting dalam desain jersey, tapi baik Dolan dan Kossman sangat menekankan bahwa asepk performa adalah yang utama.

“Pada akhirnya, saat kami membuat produk di Adidas football, tujuan utamanya adalah performa olahraga, yaitu sepakbola di lapangan,” ucap Kossman.

“Kami adalah merek sepakbola otentik. Di situlah kami dilahirkan, dan di situlah kami hidup,” tambahnya.

Dari pertimbangan fans hingga pemain profesional—dan dari pengaruh kostum edisi timnas terdahulu hingga referensi kesetaraan wanita—tim desain di Adidas memasukkan berbagai pengaruh ke dalam jersey Argentina tahun ini. Meski begitu, sosok Messi masih berada di balik proses tersebut.

“Semakin jauh Argentina melangkah, semakin bagus mereka mengenakan jersey ini, dan akan semakin menjadi ikonik,” ujar Dolan.

“Jadi, semoga saja mereka bisa melangkah sejauh mungkin, Messi dapat mengangkat trofi dengan salah satu dari dua seragam itu, dan kemudian menjadi jersey klasik sepanjang masa, selamanya,” pungkasnya.