Goalpedia: Mengapa Indonesia Jago Main Badminton Tapi Jeblok Di Sepakbola?

GOALPEDIA_Indonesia Jago Main Badminton_COVER
Goal Indonesia
Badminton kerap mengharumkan nama Indonesia di level dunia, namun hal sebaliknya belum terjadi di sepakbola.

Lagu Indonesia Raya sering dikumandangkan dan bendera Merah Putih tak jarang naik paling tinggi di pentas internasional lewat cabang badminton.

Ajang Olimpiade 2020 menjadi pembuktian terakhir bahwa Indonesia memang jago dalam olahraga tersebut, sebagaimana ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu sukses merebut medali emas setelah mengalahkan pasangan Tiongkok Chen Qingchen dan Jia Yifan di final.

Indonesia sekarang telah memenangkan semua nomor yang tersedia di cabang tersebut, menjadi negara kedua setelah Tiongkok yang berhasil melakukannya di pentas olahraga akbar dunia.

Apriyani Rahayu & Greysia Polii - Badminton Indonesia

Meski begitu, badminton masih sering kalah pamor dengan sepakbola di negeri ini. Ironisnya, persepakbolaan Tanah Air seolah tertidur selama bertahun-tahun sekali pun itu coba diangkat dengan beberapa program yang sedang dijalankan di bawah komando bekas pelatih level Piala Dunia Shin Tae-Yong.

Jadi apa yang keliru dengan sepakbola Indonesia dan mengapa kita lebih jago di badminton? Goal coba menjelaskannya di sini!

Badminton Lebih Jelas Struktur Pembinaannya

Alasan paling sederhana adalah sistem pembinaan di badminton yang sudah tersusun sedemikian rapi. Di negeri ini, badminton adalah olahraga yang bisa dimainkan di mana saja dan ada banyak lapangan untuk mendukung bibit-bibit unggul.

Sejak usia dini para orang tua juga tak sungkan mengantar putra-putrinya untuk berlatih dan bahkan menyekolahkan mereka di klub bulu tangkis yang ada di daerah, dengan harapan bisa dilirik dan digembleng untuk menjadi atlet nasional.

Persaingan dari usia anak sudah biasa ditemui di badminton. Beberapa turnamen maupun pertandingan juga rutin dijalani dan hal itu sulit ditemui di sepakbola yang lebih populer di negara ini.

Terkait sepakbola di Indonesia, memang betul itu juga sering dimainkan sedari usia anak, namun masih jarang yang menekuni itu secara serius dan hanya sekadar dijadikan sarana bermain dengan teman sebayanya.

Beberapa bahkan telat masuk klub di level akar rumput, dan itu berbanding terbalik dengan kenyataan di luar negeri yang sudah mulai digembleng dari kecil.

Postur Orang Indonesia Jadi Kekurangan Di Sepakbola, Tapi Senjata Di Badminton

Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon

Dengan postur 170cm, orang Indonesia sudah mengkategorikan itu sebagai "tinggi". Seperti diketahui, tinggi badan itu cukup berpengaruh di sepakbola mengingat ada banyak bola udara untuk dimenangkan dan otot yang terlibat di dalamnya.

Kita tidak bisa menjadikan Eropa sebagai kiblat karena kalah jauh, dan justru lebih bijak untuk meniru Jepang serta Korea Selatan yang mengedepankan teknik dan pola permainan untuk mengejutkan lawan di lapangan.

Sementara untuk badminton, postur yang rata-rata malah bisa jadi senjata sebagaimana refleks dan kecepatan kerap mengungguli para rival yang biasanya punya perawakan tegap.

Kecepatan adalah salah satu modal yang dimiliki ganda putra badminton asal Indonesia yakni Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon, yang keduanya dapat julukan The Minions dan merupakan No.1 dunia saat ini.

Asupan Gizi Turut Ambil Peran

Di era sekarang, makanan yang dimakan punya pengaruh signifikan terhadap penampilan para atlet. Salah makan atau pola diet tidak tepat tak jarang membuat mereka gampang cedera.

Di badminton, para atlet nasional yang masuk dalam pelatnas jelas dipantau asupan gizinya dan makanan mereka telah dikondisikan menyesuaikan kebutuhan harian.

Hal itu susah dijumpai di sepakbola negeri ini, yang pemainnya masih tergoda untuk makan gorengan.

Beberapa waktu lalu sempat heboh ada yang mengonsumsi makanan yang dinilai tidak layak untuk para pemain bola, dengan itu disajikan dalam bentuk nasi bungkus.

Bangun Masa Depan Dari Sekarang

Cover Artikel_NXGN_Elite Pro Academy

Badminton Indonesia terus berusaha untuk menjadi yang terdepan di dunia, dan sepakbola Tanah Air mencoba mengejar.

Dalam beberapa tahun terakhir pihak PSSI telah menggulirkan kompetisi usia dini atau Elite Pro Academy (EPA), dimulai dari U-16 dan U-18. Hal itu tentu patut diapresiasi karena sudah ada keseriusan dalam mengembangkan bakat pesepakbola.

Meski peringkat FIFA Indonesia masih jeblok, setidaknya ada usaha untuk memperbaiki itu dan meraih sukses jelas membutuhkan waktu serta proses berliku.

Tinggal kita sekarang para suporter dan media yang harus mendukung, juga meluruskan agar sepakbola Indonesia bisa jadi kebanggaan di pentas internasional, mengingat tujuan akhir adalah trofi.

Tutup