Berita Live Scores
NXGN

Arda Guler: Wonderkid Turki Yang Diincar Seluruh Eropa

19.39 WIB 20/04/22
Arda Guler NXGN GFX
Arsenal, Liverpool, dan Bayern Munich hanya salah tiga klub yang dikaitkan dengan remaja 17 tahun yang kerap dibandingkan dengan Mesut Ozil itu.

Dalam salah satu atmosfer sepakbola dunia yang paling intens, dibutuhkan banyak hal untuk menonjol pada laga panas Fenerbahce melawan Galatasaray.

Namun, ketika sesama rival Istanbul bersua pada 10 April lalu, ada satu spanduk mencolok di antara yang lain di dalam Stadion Sukru Saracoglu.

"Arda Guler: The Turkish Messi," begitu kalimat yang tertulis dalam spanduk tersebut, yang dipegang tinggi-tinggi oleh Max, pemuda 20 tahun yang melakukan perjalanan dari London untuk menyaksikan langsung salah satu pertandingan paling bergairah di sepakbola.

“Sebelumnya, saya pergi ke Barcelona untuk menonton Messi. Sangat menyenangkan bisa melihatnya langsung,” ucap Max kepada GOAL.

"Jadi saya pikir Arda Guler, yang merupakan pemain Fenerbahce favorit saya di pertandingan terbesar musim ini, pantas mendapat julukan itu!” tambahnya.

Spanduk itu menarik begitu banyak perhatian, bukan hanya lantaran seorang remaja Turki dibandingkan dengan pemenang Ballon d'Or tujuh kali dan mungkin pesepakbola terhebat sepanjang masa, tapi karena Arda telah menjadi properti terpanas di sepakbola Turki dalam beberapa pekan terakhir.

Rekan setimnya di Fenerbahce Mesut Ozil—yang juga dibandingkan dengan Arda—menggambarkan gelandang berusia 17 tahun itu punya potensi untuk menjadi "bintang dunia", dan tampaknya beberapa klub terbesar Eropa setuju.

Arsenal dan Liverpool dilaporkan mengirim pemandu bakat untuk memonitor Arda beraksi melawan Galatasaray. Sementara Barcelona, ​​​​Bayern Munich, dan Borussia Dortmund telah disebut-sebut sebagai tujuan masa depan sang calon bintang.

Itulah beberapa pencapaian dari pemain yang kala balita kerap diajarkan bermain bola oleh ayahnya dengan balon untuk membuatnya bisa menendang dengan kaki kiri.

"Kami tidak memiliki keturuan kaki kiri [yang hidup] di keluarga kami," tutur Umit Guler kepada GOAL.

"Saya meletakkan balon dan bola di depan kaki kirinya agar dia lebih sering menggunakannya,” imbuhnya.

Arda didukung sepenuhnya oleh keluarganya untuk menjadi pesepakbola, dan bakat pemain kelahiran Ankara itu sudah terlihat sejak tahun kedua sekolah dasar, ketika guru pendidikan jasmaninya menyarankan agar dia bergabung dengan akademi Genclerbirligi.

"Fasilitas pelatihan Genclerbirligi sangat jauh dari rumah kami," kenang Umit.

"Kami membawa Arda ke sana atas desakan gurunya, dan dia berhasil menunjukkan bakat di sesi latihan pertama. Mereka langsung memasukkannya ke dalam tim!” tambahnya.

Tim itu sebenarnya terdiri dari anak laki-laki yang satu tahun lebih tua dari Arda, tapi dia segera menjadi kapten karena bakatnya tampak menonjol dari yang lain.

Kemampuan Arda terpantau oleh Fenerbahce pada 2019 pada turnamen U-14 yang diselenggarakan di Riva, sekitar 50 km dari Istanbul, dan tawaran segera dibuat baginya untuk pindah sejauh 440 km ke Yellow Canaries.

“Pada Desember 2018, saya pergi ke Ankara untuk menonton pertandingan Osmanlispor versus Genclerbirligi U-14,” ujar Serhat Pekmezci, mantan koordinator pemuda di Fenerbache, kepada Haber Global.

"Saya sedang memantau pemain lain. Namun, Arda menarik perhatian saya, karena keterampilan dan karakternya membuat saya terkesan.”

“Meskipun dia mengalami cedera engkel yang serius pada 15 menit terakhir laga, dia tidak berhenti bermain. Mereka kalah dalam pertandingan dan dia meneteskan air mata di akhir pertandingan.”

“Dia memiliki potensi yang sangat istimewa. Kami memberi tahu direktur olahraga kami saat itu, Damien Comolli. Dia adalah bakat yang tidak boleh dilewatkan sehingga kami harus merekrutnya.”

“Hampir 10 hari kemudian, setelah tidak mendapat tanggapan dari direksi, saya menyiapkan video Arda dan meneruskannya ke bos kami, Ali Koc. Dia menghubungi saya setelah menontonnya.”

"Pernyataan pertama saya kepadanya adalah, 'pada usia 15 atau 16 tahun, dia bisa bermain di tim utama', dan tidak hanya menyebutkan bahwa dia adalah talenta kelas Eropa, tapi saya juga berbicara tentang kualitasnya di luar lapangan,” imbuhnya.

Seorang fans Fenerbahce sejak kecil yang mengidolakan Alex de Souza, Arda remaja mengambil kesempatan itu. Meskipun ia memulai dengan sulit, keluarganya ikut ke Istanbul sekitar enam bulan kemudian untuk membantunya beradaptasi.

Penangguhan sepakbola akibat Covid pada paruh pertama 2020 menunda awal kehidupan Arda di klub barunya, tapi begitu mampu menunjukkan kemampuannya, dia segera dipromosikan dari skuad U-17 ke U-19.

Arda menikmati musim yang luar biasa meski bermain dengan lawan yang empat tahun lebih tua darinya, mencetak 10 gol dan tujuh assist hanya dalam 22 penampilan.

Tidak mengherankan, performa tersebut menarik perhatian pelatih tim utama Vitor Pereira, yang mengundang Arda untuk berlatih di tim utama, setelah pemuda itu meneken kontrak profesional pertama pada Januari 2021.

Namun, baru pada bulan Agustus, Arda melakoni debut seniornya, diturunkan dari bangku cadangan selama 24 menit terakhir melawan HJK Helsinki pada Kualifikasi Liga Europa. Tiga hari kemudian, ia menandai debut liga melawan Antalyaspor dengan sebuah assist.

“Jika Anda ingin meningkatkan performa pemain muda, Anda perlu memberi mereka waktu bermain dan kepercayaan diri,” ucap Pereira usai debut Arda.

“Jika Anda memberikan hal itu dan para pemain memiliki kualitas, mereka bisa bersinar,” kata sang pelatih.

"Saya bekerja di akademi Porto selama lima tahun dan saya dapat mengatakan bahwa saya tidak melihat banyak pemain yang memiliki kualitas dan karakter seperti Arda,” pungkasnya.

Perbandingan Messi dan Ozil memang menjadi berita bagus, tapi tipikal pemain yang paling mirip dengan Arda mungkin adalah mantan gelandang Real Madrid, Guti, yang menutup kariernya di Besiktas, Turki.

Arda diberkati dengan kedewasaan dalam penguasaan bola yang rasanya tidak seperti pemain yang baru berusia 17 tahun, dengan kaki kirinya yang mumpuni dan visinya yang memastikan bahwa dia mampu menghasilkan umpan yang hanya bisa diimpikan oleh orang lain.

Seorang penggiring bola yang luar biasa, seperti yang disorot oleh laju dan assist yang dia berikan saat melawan Slavia Praha pada Februari lalu, dan seorang penyelesai akhir yang meyakinkan. Dari sentuhan pertama dan pengambilan keputusan, jelas Arda terlihat mampu memproses apa yang akan dia lakukan, meski bola belum mencapainya.

Di luar lapangan, Arda mampu memilah dan mematikan tren yang mengelilinginya, yang memastikan ia tetap tenang dan dapat bersantai. Setelah ia menyumbangkan assist lainnya pada leg kedua melawan Slavia misalnya, ia justru menghabiskan malam itu untuk bermain FIFA dengan mantan rekan satu timnya di U-19.

Seiring berjalannya musim, Arda mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk tampil impresif di tim utama Fenerbahce, dan menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah klub ketika ia melakukan tendangan voli dari jarak dekat melawan Alanyaspor pada bulan Maret.

Tercatat, Arda memiliki rata-rata mencetak gol atau assist setiap 45 menit ia berada di lapangan selama musim pertamanya di sepakbola senior.

Kini, tugas Fenerbahce adalah mempertahankan aset berharga mereka, yang memiliki klausul rilis senilai €30 juta dalam kontraknya yang berakhir pada 2025.

“Saya tidak berpikir Arda akan bertahan di di Turki terlalu lama,” ucap Erol Tokgozler, mantan pelatih Guler di Genclerbirligi kepada CNN Turk.

“Saya tahu bahwa ada tawaran dari Arsenal dan Bayern Munich,” imbuh dia.

"Dengan setiap pertandingan yang dilewati, jumlah tim peminat akan meningkat. [Tawaran] €20-30 juta untuk Arda akan menjadi biasa,” pungkasnya.

Demikian juga pujian dari tribune, baik melalui spanduk, lagu, atau perbandingan dengan para pemain hebat lainnya.